Rabu, 14 September 2011

SEMUA ORANG KEBAGIAN PAHALA


Kelompok Kampung Media Digital bersama seluruh ramaja dasan baru bergabung bersama sama untuk menyambut dan memeriahkan Ramadan tahun ini dengan gebrakan baru. Perinsip gebrakan baru ini adalah untuk memberikan kesemmpatan sebanyak-banyaknya kepada seluruh masyarakat dasan baru untuk meraih dan menghimpun pahala sebanyak-banyaknya di bulan yang sangat mulia.

Salah satu hal yang menarik untuk ditiru oleh semua orang dari aktifitas yang diadakan adalah bagaimana anggota Kampung Media Digital bersama remaja-remaja Dasan Baru mengatur jalannya acara tadarrus Al-qur’an dengan cara yng paling menarik dan kreatif.

Hal yang menarik dalam pengaturan tadarrus Al-qur’an ialah pembagian kelompok tadarrus. Pembagian kelompok tadarrus Al-qur’an ini dilakukan dengan tujuan supaya semua warga Dasan Baru kebagin jatah pahala tadarrus. Selain itu, bukan hanya orang-orang tua yang tadarrus Al-qur’an, akan tetapi Remaja-remaja bahkan anak-anak ikut berpartisipasi dalam acara tadarrus ini.

Pengaturan tadarrus Al-qur’an yang dilksanakan sesuai dengan tuntunan yang seharusnya dilakukan oleh setiap orang. Kenapa demikian? Karena memang tadarrus itu berarti belajar. Tadarrus Al-qur’an berarti mempelajari Al-qur’an. Ini berarti bahwa tadarrus Al-qur’an yang sebenarnya harus member pelajaran bagi setiap orang yang mengikuti acara itu.

Hal itu senada dengan apa yang diucapkan ketua panitia Ramadan, Ust Zamahsari. “ Ramadan seharusnya dijadikan pelajaran yang berharga bagi setiap umat islam dimana peljaran itu akan berguna bagi dirinya bukan haya pada bulan Ramadan, akan tetapi pada bulan bahkan pada tahun-tahun berikutnya. Oleh sebab itu, pada tahun ini kita akan membuat malam bulan Ramadhan akan manjadi malam pembelajaran bagi kita semua, khususnya bagi warga kita dasan baru.

Berdasarkan perinsip yang diucapkan oleh Ust. Zamahsari di atas, Kelompok Kampung Media Digital membagi kelompok tadarrus tiap malam menjadi tiga kelompk tadarrus. Tiaga kelompok tadarrus itu ialah kelompok tadarrus fasih, kelompok tadarrus belum fasih, dan kelompok tadarrus belum bisa.

Kelompok tadarrus fasih terdiri dari warga dusun Dasan Baru yang sudah fasih membaca Alqur’an baik dari kalangan orang tua, ramaja, maupun anak-anak. Kelompok tadarrus belum fasih terdiri dari beberapa ramaja dan anak-anak yang belum fasih membaca Al-qur’an. Sedangkan kelompok belum bisa baca Al-qur’an terdiri dari anak-anak yang diajar ikro’.

Kelompok tadarrus fasih adalah perwakilan warga dasan baru yang akan mengaji menggunakan pngeras suara seperti layaknya dilakukan di desa-desa lain. Kelompok yang kan secara bergiliran membaca Al-qur’an tiap malam, tentunya bagi warga yang punya waktu luang. Karena anggota kelompok ini adalah anggota yang sudah cukup fasih, remaja tidak menugaskan seorang pun untuk mengontrol dan menyimak karena meraka akan saling simak.

Pada kelompok berikutnya, kelompok kurang fasih, remaja Dasan Baru menugaskan remaja yang fasih dan pintar membaca Al-qur’an dengan bertajwid untuk memberikan bimbingan kepada semua anggota kelompok ini. Pada kelompok ini setiap anggota diberikan kesempatan untuk membaca Al-qr’an dengan langsung disimak dan diajar oleh remaja yang bertugas. Sedangkan bagi anggota-anggota yang belum mendapat giliran untuk disimak dan diajari diperintahkan untuk menyimak dan mendengarkan penjelasan yang diberikan agar mereka mendapatkan pengetahuan yang akan membantu mereka lebih cepat fasih membaca Al-qur’an.

Sedangkan pada kelompok ketiga, kelompok belum bisa membaca Al-qur’an, diajarkan iqra’ oleh remaja yang bertugas tiap malamnya. Membelajaran ini dilaksanakan langsung dengan system privat. Hal ini dilakukan karena anggota kelompok ini tidak berada pada iqra’ yang sama. Karena mereka tidak sama iqra’, maka kurang efektif bila diajarkan dengan system klaiskal.

Berkaitan dengan system itu, Ust. Khulaifi mengatakan “ semoga dengan pemberlakuan system ini, masyarakat kita semua mampu dan terus termotivasi mambaca Al-qur’an. Kita juga berharap semoga jumlah masayarakat yang buta Al-qur’an dapat kita kurangi karena bagaimanapun juga mereka adalah tanggung jawab kita semua.

Untuk lebuh lancarnya system pembagian kelompok ini, penentuan lokasi tadarrus diatur sedemikian rupa oleh remaja dan kelompok kampong media. Penentuan lokasi tadarrus dimaksudkan agar setiap kelompok tidak terganggu. Kelompok pertama, kelompok fasih, ditempatkan didekan mimbar masjid langsung menggunakan pengeras suara. Kelompok kedua ditempatkan di sebelah utara , sedangkan kelompok ketiga diletakkan di timur.

Karena pengaturan yang rapi, acara tadarrusan menjadi hal yang menarik dan disorot oleh masyarkat setempat. Hal tersebut sesuai dengan yang diutarkan Adi, warga Dasan Baru, “ acara tadarrusan kali ini patut diajungi jempol. Karena dengan diberlakukannya system seperti ini, tidak ada alasan bagi setiap orang untuk datang main-main saja kemasjid karena masing-masing punya kesempatan yang sama untuk menyimak dan disimak.

Hal lain yang menarik pada Ramadhan kali ini adalah pembagian nasi bungkus. Untuk pertama kalinya remaja dasan baru yang diketuai oleh Dedi Muhadi ini mengusahakan pengadaan nasi bungkus di masjid. Hal itu dimaksudkan agar ibu-ibu rumah tangga Dasan Baru juga memdapatkan kesempatan yang sama untuk meraih kemuliaan bulan ramadhan dengan memperbanyak sadakah. Selain itu, warga Dasan Baru yang sudah tadarrus Al-qur’an juga dapat istirahat sambil menikmati nasi bungkus yang disediakan remaja.

Karena tidak ingin terlalu memberatkan warga, remaja Dasan Baru membagi kelompok masyarkat menjadi tujuh kelompok sehingga mereka hanya kan mengeluarkan nasi bungkus sekali seminggu. Selain itu, ibu-ibu juga tidak diminta untuk langsung membawanya ke masjid, akan tetapi beberapa kelompok remaja ditugaskan untuk mencari nasi di setiap rumah warga yang punya giliran untuk kemudian dibawa ke masjid.

Selain hal-hal di atas, ada hal baru yang juga dilakukan oleh persatuan remaja Dasan Baru dan Kmapung Media Digital. Pada Ramadhan ini, remaja Dasan Baru berusaha untuk menertibkan proses pelaksanaan hari raya Idul Fitri. Hal ini dilakukan karena sebelumnya warga Dasan Baru banyak yang suka membuat saf di teras luar masjid. Hal ini mengakibatkan ruang dlam masjid tidak terisi penuh dan wanita tidak memiliki tempat untuk ikut melaksanakan hari raya Idul Fitri.

Hal yang dilakukan adalah dengan menginstruksikan kepada muslimah yang akan melaksanakan shalat Idul Fitri untuk mengisi teras masjid utara dan selatan yang sering ditempati oleh warga laki-laki Dasan Baru serta menginstruksikan kepada warga laki-laki untuk membuat saf di dalam. Dengan pengonolan yang ketat, pelaksanaan shalat Idul Fitri sesuai dengan yang diharapkan.

1 komentar:

  1. Salut sama teman teman kampung media sopoq angen. Memang benar benar remaja Kreatif yang patut di jadikan teladan. maju terus kampung media.

    BalasHapus

Mohon Tinggalkan Komentar

SUPPORTING SITES

 

Popular Posts

Popular Posts this month

Popular Posts this week